Biarkanlah sesekali anak pergi, meninggalkan rumah selama beberapa hari, bukan karena kita usir. Itu akan membuat mereka berlatih mandiri dan mencicipi dunianya sendiri tanpa orangtua. Namun sesungguhnya bukan hanya anak yang belajar. Orangtuanya pun belajar. Dalam rindu dan was-was, orangtua juga mematangkan diri.
Tak ada yang istimewa kata Anda, karena ini siklus belaka dari generasi ke generasi. Tapi bagi saya tetap saja bernilai. Berbahagialah yang mencicipi rindu dan was-was.
Hanya orang sibuk yang bisa menikmati santai. Penganggur malah mencari kesibukan, syukur ada uangnya.
Tadi ketika melewati TV saya lihat iklan entah apa. Adegannya: seorang murid boleh pulang duluan karena bisa menjawab pertanyaan guru.
Apa sih yang penting dalam sebuah acara? Kehadiran. Itu sudah merupakan peran serta.
Berterima kasihlah kepada ponsel dan internet. Kita bisa menyapa kawan dan kerabat sekadar ingin tahu kabar. Atau malah tak perlu menyapa. Cukup mengintip.
Ada yang membanggakan nomor ponsel bersedikit digit, “Ini bukti gue udah pake sejak 1994.”
Ahad dengan satu atau lebih koran edisi Minggu. Rasanya memang merupakan kemewahan.
Banyak yang sudah merancang acara hari libur, apalagi harpitnas, untuk bepergian. Ada juga yang merencanakan untuk melalap buku sambil menikmati musik. Atau berniat membersihkan rumah dan memperbaiki atap (baca: mengawasi tukang).